Selasa, 23 Juli 2013

PELOPOR MARATHON MOUNTAINEERING INDONESIA

PELOPOR MARATHON MOUNTAINEERING INDONESIA

Di usia 51 tahun, ia berhasil mendaki 24 gunung dalam 24 hari sendirian. Percaya?

KETIKA pendaki muda berbondong-bondong mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia, Willem Tasiam, 54, malah lebih suka memilih untuk menjelajah gunung-gunung di Jawa, Bali, dan Lombok.

Willem yang mengaku mencintai gunung sejak umur 17 tahun, tidak suka dan tak ingin ikut arus. Pendakian bergengsi macam seventh summit

Atau pendakian kutub utara tak memikat hatinya. “Tiap orang punya keinginan masing-masing. Saya pikir panggilan saya adalah mendaki gunung-gunung di sini saja ( dalam negeri) ,” katanya.

Sudah tak terhitung banyaknya pendakian yang telah dilakukan Willem di deretan pegunungan Pulau Jawa. Jalur pendakian sudah ia hafal di luar kepala. Bertandang ke Gunung Slamet, Merapi, Semeru, atau Kawah Ijen, tak ubahnya seperti bertandang ke rumah kawan lama. Bersilaturahim kepada para pemandu di pos jaga sudah menjadi hal wajib di sela perjalanannya.

Kini, ia dikenal sebagai satu-satunya penjelajah alam yang memelopori pendakian maraton, sebuah reli perjalanan dari puncak gunung satu ke puncak yang lain dengan waktu seminim mungkin.

Manajemen waktu, perencanaan, dan pengenalan medan menjadi kuncinya. Rekor tercepat Willem diraih pada 2009 ketika ia berhasil mendaki 24 gunung di sepanjang Jawa hingga Lombok dalam waktu 24 hari saja.

BERAWAL DARI MEMBACA SEBUAH BUKU

Keinginan Willem untuk melakukan pendakian maraton datang ketika ia membaca sebuah buku saku berjudul Petunjuk Praktis Mendaki Gunung. Ketika membaca biografi singkat salah seorang pengarang /pendaki tanah air, di lembar-lembar terakhir buku, ia menemukan sebuah kalimat yang menggelitik.

“Di situ tertulis, bahwa pengarang buku ini pernah mendaki tujuh gunung dalam 25 hari. Kemudian saya bilang sama teman, kalau segitu saja sih saya bisa,” cerita Willem.

Pada 2004, ia membuktikan bahwa omongan itu tak sekadar kesombongan belaka. Selama 20 hari, ia mendaki 14 gunung di Jawa dengan ketinggian 2.900 meter hingga 3.700 meter di atas permukaan laut (dpl).

Tahun berikutnya, Willem tak puas diri. Ia menantang fisiknya sendiri untuk menjelajah 20 gunung dalam 29 hari. Tantangan ini sukses dia lakukan dalam 26 hari saja.

Pada 2006, Willem mempertajam rekor dengan melahap 22 gunung dalam 25 hari saja. Di tahun berikutnya, rekor ini dipertajam lagi menjadi 23 gunung dalam 23 hari.

“Rutenya selalu sama, dimulai dari barat Jawa, menyusur deretan pegunungan hingga ke timur. Lama-lama, karena gunungnya bertambah, saya lanjut ke Bali dan Lombok,” kata dia.

Rekor tercepatnya dipecahkan pada 2009 ketika berhasil mendaki 24 puncak gunung dalam 24 hari. Tak seperti kebanyakan pendakian maraton sebelumnya yang dimulai dari barat, perjalanan kali itu dimulai dari timur, yaitu dimulai dari Gunung Tambora di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dilanjutkan Rinjani, Agung, Kawah Ijen, Raung, Argopuro, Semeru, Arjuno, Welirang, Paderman, Butak, Lawu, Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Slamet, Ceremai, Tampomas, Burangrang, Guntur, Cikuray, Gede, dan Pangrango.

Ketinggian gunung bervariasi antara 1.900 meter hingga 3.700 meter dpl. Lamanya pendakian pun tak bisa disamakan. Satu gunung bisa memakan satu setengah hari. Sedangkan yang lain bisa dibabat dengan tiga atau empat jam saja.

Willem bahkan pernah mendaki tiga gunung selama satu hari. Hal ini memungkinkan karena letaknya berdekatan. Pada pukul 00.00 WIB, ia mendaki dari kaki Gunung Gede di Cibodas, Jawa Barat. Pukul 05.00 WIB, ia sampai di puncak, lalu turun lagi pada pukul 07.00 WIB.

Setelah melewati pertigaan menuju Gunung Pangrango (Kandang Badak 2400 Mt dpl) , Willem mencapai puncak kedua itu pada pukul 09.30 WIB. Setelah itu, ia lanjut mendaki gunung ketiga, Burangrang, dan sampai di puncak pada pukul 17.46 WIB. Semua catatan waktu ini rapi didokumentasikan dalam buku perjalanannya.

LATIHAN DAN SURVAI

Pendakian maraton bagi Willem bukanlah gaya-gayaan. Ia mengaku melakukan itu semua untuk dirinya, mencari sebatas mana kemampuan yang dia miliki untuk mendaki.

Karena itu, persiapan matang selalu dilakukan. Minimal tiga bulan menjelang perjalanan, ia berlatih fisik dengan berlari. Satu bulan di Senayan, satu bulan lagi latihan lari di Gunung Bromo. “Paling bagus untuk latihan fisik adalah berlari di ketinggian,” katanya.

Selain itu, ia juga harus melakukan survei jalur pada lokasi tertentu yang belum ia hafal betul. “Salah-salah mengambil jalur, saya bisa kehilangan banyak waktu. Buang waktu 10 menit rasanya bisa berjam-jam. Pusing kalau begitu,” akunya yang pernah tersesat di Gunung Ceremai, Jawa Barat.

Jika sudah merasa yakin, barulah Willem mengemas barang dan mulai mendaki. Isi tas ia perhatikan betul, terutama soal makanan, agar tak menambah beban berkilo-kilo.

Untuk soal makanan ini, Willem punya rahasia jitu. Alih-alih membawa beras atau roti, ia malah membeli kismis, sale pisang basah, dan selai kacang sebagai menu wajib di dalam tasnya. Makanan ini merupakan asupan tepat untuk mengembalikan energi karena cepat dicerna oleh tubuh.

“Di kaki gunung, biasanya saya juga beli buah anggur atau pir hijau. Selain energi, buah punya air yang bisa ganti cairan tubuh,” lanjutnya.

Di usia yang tak lagi muda, pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, ini mengaku masih punya cita-cita atau obsesi . Targetnya adalah 30 gunung dalam 28 hari dengan tambahan beberapa gunung di Sumatra.



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636

GLOBAL POSITIONING SYSTEM

GLOBAL POSITIONING SYSTEM


GPS ( Global Positioning System ), merupakan sistem navigasi satelit yang dikembangkan oleh departemen Pertahanan Amerika Serikat ( US DoD = United States Department of Defense). GPS memungkinkan kita mengetahui posisi Geografis kita (lintang, bujur dan ketinggian diatas permukaan laut). Jadi dimanapun kita berada dimuka bumi ini (asal tidak ada obstacle atau halangan), kita dapat mengetahui posisi kita dengan tepat.

GPS terdiri dari 3 segmen : segmen angkasa, controlling/pengendali, dan pengguna.

SEGMEN ANGKASA : Terdiri dari 24 satelit yang beroperasi dalam 6 orbit pada ketinggian 20.200 km dan inklinasi 55 derajat dengan periode 12 jam (satelit akan kembali ketitik yang sama dalam 12 jam). Satelit tersebut memutari orbitnya sehingga minimal ada 6 satelit yang dapat di pantau pada titik dimanapun dimuka bumi. Satelit tersebut mengirimkan posisi dan waktu kepada pengguna seluruh dunia.

SEGMEN CONTROLLING/PENGENDALI : Terdapat pusat pengendali utama yang terdapat di Colorado Spring, 5 stasiun pemantau lainnya dan 3 antena yang tersebar dibumi ini. Stasiun pemantau memantau semua satelit GOS dan mengumpulkan informasinya. Stasiun pemantau kemudian mengirimkan informasi tersebut kepada pusat pengendali utama yang kemudian mengirimkan informasi tersebut kepada pusat pengendali utama yang kemudian melakukan perhitungan dan pengecekan orbit satelit. Informasi tersebut kemudian dikoreksi dan dilakukan perhitungan dan dikirim kesatelit GPS.

SEGMEN PENGGUNA : Pada sisi pengguna dibutuhkan penerima GPS yang biasanya terdiri dari penerima, prosesor, dan antena. Sehingga memungkinkan kita dimanapun berada dimuka bumi ini asalkan dapat menerima sinyal dari satelit GPS dan kemudian menghitung posisi, kecepatan dan waktu.



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636

STYLE PENDAKI GUNUNG

STYLE ( GENDER ) PENDAKI GUNUNG

Para penggiat petualangan (pendakian gunung) paling tidak dapat di klasifikasikan ke dalam dua “style” . Pertama adalah pendaki sebagai seorang “sportman” dan pendaki non sport (hoby, obsesi, publisitas, doktrin, dll). Saya pikir “style” adalah pilihan dan konsekwensinya pastilah berjalan linear dengan pilihan yang kita ambil.

Seorang pendaki dengan style “Sportman” pastilah melakukan pendakiannya dengan sangat terukur dengan kalkulasi yang sudah matang. Sehingga jika pun terjadi musibah dalam pendakiannya, akan dievaluasi dari sisi teknis, statistik dan probabilitas.

Lain halnya dengan pendaki dengan gender (style) “non Sport”, kelompok ini jumlahnya mayoritas dan tidak hanya di Indonesia. Pendaki jenis ini biasanya melakukan pendakian/ekspedisi dengan motivasi yang bermacam2 dan cenderung subjektif (publisitas, ambisi, doktrin, dll) sehingga yang sering terjadi adalah melanggar norma2 yang baku, lalu ketika terjadi musibah maka dianggap sebagai takdir Tuhan semata.

Andainya paparan ini masih terkesan bias, saya akan coba lakukan pendekatan kasuistik dua pendaki legendaris dunia yaitu Charles Houston (US) dan Reinhold Messner (Italy). Dalam hal ini saya anggap Houston adalah representasi dari pendaki Sportman, dan Messner saya anggap sebagai jenis yang kedua (Non Sport).

Karena bergaya “Sportman”, Houston melakukan prepare pendakian (K2-1938) nya dengan sangat matang. Tetapi ketika dia mendapati kenyataan bahwa puncak tidak mungkin dicapai saat itu (1938) dengan perhitungan teknisnya, ia pun turun kembali. Lima belas tahun kemudian setelah dirasa mental, skill teknik dan teknologi pendakian dirasakan sudah lebih mumpuni barulah dia kembali ke K2 pada tahun 1953 dan mencobanya kembali. Karena alasan keamanan dan peraturan daerah (Perda) di pakistan, maka sherpa2 akhirnya hanya bisa membantu sampai Camp II dan setelah itu pendakian dilakukan dengan “alpine style” (tradisional). Karena tidak ada “high-altitude porters” maka team harus memiliki fisik dan mental yang prima. Singkat cerita “Third American Expedition” ini pun kandas di leher gunung karena cuaca buruk. Houston sempat mengkalkulasikan “probability summit attempt”( mencoba kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan summit attack) selama beberapa hari dalam suasana terjebak badai di Camp VIII dan akhirnya karena faktor fisik team yang tidak memenuhi syarat akhirnya Houston sebagai leader pun memutuskan untuk turun.

Kini, keputusan sulitnya 56 tahun yang lalu itu diyakini adalah keputusan paling fantastis (mengorbankan ego, nafsu dan ambisi mahluk manusia) untuk mencapai puncak tapi harus dibatalkan karena kalkulasi teknis dan “probability summit attempt” yang tidak memungkinkan untuk mencapai puncak!!!!. Sejarah mencatat dengan tinta emas hingga saat ini bahwa seorang Sportman tidak akan mengorbankan nyawanya, hanya untuk sekedar sampai di puncak gunung. Ada sebuah adagium/philosophy dalam kalimat emas dunia pendakian tentang “kebersamaan” (“WE ENTERED THE MOUNTAIN AS STRANGERS, BUT WE LEFT IT AS BROTHERS” pengertian bebas nya kira-kira seperti berikut ; “ KETIKA KAMI MEMASUKI DAN MENDAKI SEBUAH GUNUNG KAMI MENGANGGAPNYA SEBAGAI MAKHLUK ASING, NAMUN KETIKA KAMI MENINGGALKAN NYA KAMI MENGANGGAP GUNUNG INI SEBAGAI SAUDARA KAMI” ) yang saat ini diakui di dunia, yaitu karena “prestasi” Houston dalam Third American Expedition tahun 1953 itu.

Nah, selanjutnya adalah Reinhold Messner. Saya setuju dengan menganalogikan messner sebagai radikal, extrem dan revolusioner. Tetapi pencapaian messner saya pikir adalah sebagai pembuktian ambisi, ego, nafsu pribadi untuk memberitahu dunia bahwa “lazy climber” dengan logistik dan sherpa yang banyak ditambah tabung oksigen yang berat adalah sebuah hal yang tidak efisien. Sisi subjektif ini diakui secara umum di dunia pendakian dan semua pendaki tahu bahwa apa yang dilakukan messner bukan untuk dilampaui, tetapi sebagai bagian dari “item teknik” untuk alternatif yang sewaktu2 dapat dilakukan (jika keadaan memaksa).

Jadi messner saya pikir adalah pendaki dengan motivasi yang tidak sebagai “Sportman” tetapi lebih kepada pencapaian ambisi pribadi. Dan saya pikir sejarah tidak akan mencatat messner-messner baru dikemudian hari karena apa yang dilakukannya bukanlah untuk dilampaui. Cukuplah menjadi seven summiters saja prestasi tertinggi pendaki saat ini. Jika pendaki2 masa kini berlomba2 untuk melampaui prestasi “eight-thousander” nya messner, saya kira regenerasi pendaki akan sulit dilakukan karena pendaki2 senior yang ada kemungkinan besar habis menjadi korban ambisi abadi umat manusia. Cukup Jerzy Kukuczka saja yang menjadi tumbal perlombaan egoisme dan nafsu eight-thousander.

Pemerintah nepal, china, pakistan dan Indonesiapun pastinya akan mengeluarkan regulasi pendakian yang ketat jika “trend” alpine style ini bertambah banyak, karena ukuran pendaki yang layak untuk melakukan pendakian dengan gaya alpine style inipun masih bias dan tidak baku dengan resiko kematian yang cukup tinggi. Dan jangan lupa sisi psikologis messner dengan “alpine style” nya pun tidak lepas dari tragedi “Diamir Face” di Nanga Parbat 1970, bukan? Mungkin jika “first alpine style” nya di Nanga Parbat berlangsung sukses (naik dan turun dengan jalur yang sama) dan tidak kehilangan Ghunter, saya kira messner tidak akan sehebat sekarang.

TIPIKAL PENDAKI DI INDONESIA

Kalau kita mau jujur dan berfikirian objektif bahwa sampai saat sekarang ini hanya sedikit pendaki yg menganut mazhab “Sportman” sebagai acuan dalam aktivitas pendakiannya. Untunglah gunung2 di Indonesia rata2 adalah jenis gunung berhutan tropis basah , sehingga tidak dibutuhkan skill yang tinggi untuk mencapai titik tertinggi puncaknya.

Pendaki Indonesia secara umum masih dalam pola pikir mendaki puncak2 yang ada. Atau bahasa awamnya puncak 3000an sebagai salah satu ambisi khas Indonesianis. Mencapai puncak adalah prestasi!!! Itulah “crusial point” nya. Banyak yang tidak mengetahu 76% tragedi pendakian adalah ketika turun dari puncak. Tragisnya lebih banyak lagi yang tidak mau tahu /perduli, dan mereka baru mengetahui dan menyadari setelah terjebak dalam situasi “point of no return” atau pada satu titik tidak bisa kembali/turun disaat semua keputusan apapun yang dibuat adalah bencana.

Sederhananya adalah sangat sedikit pendaki kita yang mau belajar Manajemen Resiko dalam pendakian. “Failure of Risk Management” dianggap hanyalah milik gunung2 8000an dan tidak mungkin terjadi di Indonesia. Lalu kebanyakan langsung terjun ke lapangan dengan keyakinan bahwa kegiatannya itu pastilah selamat dan tidak akan terjadi musibah. Oleh karena itu kalau boleh saya memberikan saran, kenali kemampuan kita, share dengan rekan2 sehobi, adakan trial (latihan-latihan, simulasi) perjalanan, pematangan teknik (knowledge) & mental, setelah semuanya matang dan stabil barulah “ PUSH YOUR LIMIT “.

PAST IS KEY FOR THE FUTURE

Empat puluh tiga tahun yang lalu (era 70 an )Saya pun memulai kegiatan mountaineering ini dengan gaya yang urakan, amburadul, nekat, tanpa perhitungan dan radikal konyol tentunya. Sok paling hebat (sotoy) dengan menjadi leader team advance (hasilnya malah tersesat beberapa hari di dalam hutan disebuah gunung). Namun Alhamdulillah beruntung malaikat maut tidak jadi menjemput di beberapa titik kritis pendakian extrem masa lalu. Maka sehingga saya masih bisa memetik pelajaran atau hikmah yang sangat berharga dari peristiwa konyol tersebut. Dari kejadian itu tadi saya butuh waktu lama untuk melakukan proses perubahan atau perbaikan (manajemen, etika dan perilaku) sampai akhirnya merubah total gaya pendakian dari “urakan” menjadi lebih tertib, disiplin dan terpogram rapih dengan penuh perhitungan serta terukur.



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636

JALUR ( TRACKING ) GUNUNG SALAK

JALUR ( TRACKING ) GUNUNG SALAK

Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Gunung ini memiliki beberapa puncak diantaranya adalah Puncak Salak I dengan ketinggian 2.211 m dpl dan Puncak Salak II dengan ketinggian 2.180 m dpl.

Gn Salak masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung SalakHalimun ( TNGSH) . Dan memiliki peraturan atau tata laksana yang berbeda dibandingkan dengan tempat wisata pada umumnya, TamanNasional sebenarnya lebih ditujukan sebagai kawasan konservasi alam dan penelitian.
Jadi semakin banyak orang datang, semakin merugikan. Untuk itu dibuatlah berbagai strategi dan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan UU No Tahun 1990. Salah satu nya adalah dengan dibuat manajemen pendakian yakni dengan cara membatasi kuantitas pengunjung (SISTEM KUOTA) , seperti yangtelah diterapkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sejak era 80 an.

Perijinan dan prosedur pendakian tidak serumit dan seketat Gn. Gede –Pangrango, kita bisa langsung datang dan mengisi formulir ygtersedia. Cukup menyediakan copy kartu identitas. Bila ada yangbelum berumur 17 tahun wajib menyertakan Surat ijin Orang tua. Tapibila anda sengaja menyelonong masuk jangan kaget atau heran kalau tiba-tiba dicegat dan dipaksa turun oleh Para Volunteer yg setiap saat bisa mengadakan monitoring, patroli dan atau sweeping di Jalur Kawah Ratu dan Jalur ke arah puncak.

Selain Puncak Salak I yang menjadi titik tertingginya, tempat yangpaling menarik adalah Kawah Ratu. Kawasan penuh kepulan asapbelerang kurang lebih seluas dua lapangan bola ini sungguh merupakanpemandangan yang sangat menarik. Menyaksikan bumi "bernapas"bukanlah pemandangan sehari-hari dan sangat layak dijadikan salahsatu moment yang dikenang. K2 (Kawah Katu) sering dijadikan plesetannama Kawah Ratu, mengacu pada nama puncak tertinggi ke-2 di dunia dipegunungan Karakoram sana. Hal lain yang cukup menarik perhatian di G Salak adalah pacet. Hewan tak bertulang belakang mungil sebesar lidi ini kalau sudah menghisap darah bisa menggelembung berlipatbesarnya dan tidak akan melepaskan gigitannya sebelum kenyang.

Menurut data satelit, gunung Salak memiliki 7 (tujuh) puncak yang merupakan sisa letusan ribuan tahun lampau. Sampai sekarang puncak yang sering dijelajahi pendaki hanya 2 puncak saja, yaitu Puncak I (2.211 mdpl) dan Puncak II (2.098), karena sulitnya medan dan gunung ini tidak terlalu populer dikalangan para pendaki. Dibandingkan gunung terdekatnya, G.Gede dan G.Pangrango, G.Salak hanya di daki untuk event-even yang khusus saja seperti acara pelantikan ataupun pelatihan navigasi, SAR dan jungle survival.

Gunung Salak bukanlah nama dari tanaman salak, namun berasal dari bahasa sangsekerta “salaka” yang berarti perak. Letusan terakhir gunung ini terjadi pada tahun 1938 berupa erupsi freatik yang terjadi di kawah Cikuluwung Putri.

Gunung ini memiliki kontur yang sama sebagaimana tekstur geologi gunung berapi umumnya, sehingga ada punggungan dan lembah yang beraturan. Punggungan yang terdekat mencapai puncak Salak I adalah lewat Cimelati ini. Kurang lebih 4-5 jam kita dapat mencapainya. Jalan setapak yang dilalui sangat rimbun, apalagi binatang melata dan mamalia seperti ular, monyet serta burung Elang Jawa-pun yang langka dapat kita jumpai di gunung ini. Hanya saja saat ini, ke aneka ragaman hayati di G. Salak yang eksotis ini sudah mulai terganggu ekologi dan ekosistemnya dengan adanya penebangan dan perburuan liar serta banyaknya penambangan emas liar (illegal).

Pendakian Gunung Salak dapat melalui beberapa jalur pendakian. Puncak yang sering didaki adalah puncak I dan II. Puncak Salak I dapat didaki dari arah Cimelati dekat Cicurug, Cidahu Sukabumi atau Kawah Ratu Gunung Bunder.

Untuk mendaki gunung ini sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim kemarau. Pada musim kemarau jalur pendakian tidak terlalu becek, angin tidak terlalu kencang, dan tidak ada pacet atau lintah.

Namun banyak juga pendaki yang memiliki favorit untuk melakukan pendakian adalah pada musim hujan. Alasan mereka karena musim penghujan terdapat persediaan air berlimpah dan suasana hutan yang lembab. Apabila musim paceklik air sulit sekali diperoleh, karena sungai debit dan volume airnya sangat sedikit.. Jalur Cimelati ini juga memiliki 3 buah air terjun yang sangat indah dan hanya dapat dinikmati pada musim penghujan saja.
Selain alasan masalah air, para pendaki yang memilih mendaki pada musim penghujan adalah karena faktor alasan keamanan dan keselamatan pendaki dari bahaya kebakaran hutan .

Berikut adalah beberapa jalur ( rute ) pendakian Gunung Salak :

JALUR CIDAHU /CANGKUANG (SUKABUMI)

Salah satu jalur yang sering dipakai oleh pendaki gunung adalah dari Wana Wisata Cangkuang, Kecamatan Cidahu, kabupaten Sukabumi. Dari Jakarta menuju ke tempat ini dapat menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi kemudian turun di Cicurug. Selanjutnya dari Cicurug sambung dengan mobil angkot jurusan Cidahu.

Dari tempat ini ada dua jalur pendakian, yakni jalur lama yang menuju puncak I dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Wana Wisata Cangkuang sering digunakan menjadi perkemahan dengan pemandangan air terjun yang indah dan sering digunakan pendaki menuju ke Kawah Ratu. Dari jalur ini pula pendaki dapat menuju ke Puncak Salak I.

Di pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat yang nyaman untuk berkemah, juga terdapat banyak warung makanan. Dari jalur ini dapat menuju Kawah Ratu, waktu yang diperlukan adalah sekitar 3-5 jam perjalanan. Sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan sekitar 8 jam perjalanan.

Dari perkemahan menuju shelter III memiliki jalur awal curam, kemudian lembab dan basah. Pada musim hujan jalur ini merupakan jalur licin dan curam, perjalanan tertolong oleh akar-akar pohon. Pada shelter ini terdapat sungai yang jernih dan terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda dengan pemandangan hutan tropis yang lebat.

Menuju shelter IV, jalur semakin curam. Jalur ini berupa tanah merah. Di beberapa tempat, kamu akan melewati beberapa tempat becek sedalam dengkul kaki. Pada jalur ini juga pendaki akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya. Untuk pendakian jalur ini sebaiknya mengambil air jernih di sini karena pada musim kemarau sungai ini menjadi sumber air bersih terakhir.

Shelter IV merupakan persimpangan jalan. Untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter ini memiliki area yang cukup luas untuk membangun tenda.

ESTIMASI WAKTU TEMPUH ;

Dari Bumi perkemahan - Shelter I = 1 jam
Shelter I - Shelter II = 1 jam
Shelter II - Shelter III = 1 jam
Shelter III - Shelter IV = 1 jam
Shelter IV - Shelter V = 1 jam
Shelter V - Shelter VI = 1 jam
Shelter VI - Shelter VII = 1 jam
Shelter VII - Puncak = 30 menit

Menuju Kawah Ratu

Dari Shelter IV menuju Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 1 jam. Kawah ratu terdiri dari 3 kawah, Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu merupakan kawah aktif yang secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang. Di tempat ini dilarang mendirikan tenda dan dilarang minum air belerang.

Menuju Puncak Gunung Salak

Dari Shelter III menuju shelter IV akan membutuhkan waktu 1 jam. Perjalanannya akan melintasi akar-akar pohon yang tertutup tanah lunak sehingga kaki bisa terpelosok. Dari tempat ini akan terlihat Kawah Ratu dengan sangat jelas. Setelah melewati sungai kecil dan tempat yang sangat luas, pendaki berbelok ke kanan. Kemudian berjalan ke kiri mengikuti pagar kawat berduri.

Jalur ini sangat sempit, sedikit turunan, agak landai, juga curam. Pada sisi kiri dan kanan jalan berupa jurang yang curam dan dalam. Pada jalur ini ditutupi rumput dan pohon. Satu jam melintasi jalur ini pendaki akan melintasi akar-akar pohon dan bebatuan.

Jalur shelter V sedikit menurun kemudian kembali menajak tajam. Pendaki akan memanjat tebing batu curam. Menuju shelter VI memerlukan waktu sekitar 1 jam, jalur semakin curam dan sempit sehingga tidak ada waktu untuk beristirahat.

Pada shelter VII pendaki perlu waktu sekitar satu jam untuk mendaki punggung gunung yang semakin menanjak. Pada jalur ini pendaki akan banyak melintasi akar pohon sehingga bila angin bertiup pendaki akan ikut bergoyang. Dari sini hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk menuju puncak Gunung Salak I, jalur ini sudah tidak terlalu curam.

Sampailah pada puncak Gunung Salak I, Puncak Gunung ini masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Tempatnya sangat luas dan dapat digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Di puncak ini terdapat beberapa makam kuno, diantaranya makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah. Di puncak Gunung Salak I ini juga terdapat sebuah pondok yang sering digunakan oleh para peziarah untuk menginap.

JALUR GIRI JAYA ( CURUG PILUNG )

Jalur Giri Jaya terdapat di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Menuju Puncak Gunung Salak dari jalur ini dapat dilalui dengan waktu tempuh 5 – 8 jam perjalanan. Jalur ini berada di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug. Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam perjalanan.

Dari pintu masuk Wana Wisata Curug Pilung dengan berjalan kaki beberapa meter akan telihat Gapura pintu masuk Pasareyan Eyang Santri. Dari sana pendaki dapat berjalan melalui rumah penduduk, kemudian akan sampai kebun-kebun rumah penduduk. Setelah berjalan 15 menit pendaki akan sampai di sebuah pertapaan Eyang Santri, disekitarnya terdapat MCK yang terdapatair bersih di dalamnya. Pendaki harus mengambil air bersih dari sini karena melalu jalur ini hingga mencapai puncak tidak terdapat mata air.

Di bawah pertapaan Eyang Santri terdapat air terjun yang indah, namanya air terjun Curug Pilung. Daerah ini juga dapat digunakan untuk berkemah.

Dari lokasi pertapaan Eyang Santri pendaki akan melewati jalur yang agak landai, melewati pohon pohon damar. Bila cuaca bagus dari sini dapat terlihat Gunung Gede dan Gunung Pangrango dengan sangat jelas. Lereng-lerengnya banyak ditumbuhi pohon besar dan lebat. Dalam waktu 1 jam perjalanan jalur masih agak landai dan melewati jalan yang sempit dan licin.

Sekitar 3-4 jam perjalanan pendakian, kita akan sampai pada sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitar makam terdapat mushola dan sebuah pondok. Dari makam ini jalur semakin curam, melawati akar dan tanah. Dari tempat ini masih diperlukan waktu 2 jam perjalanan untuk menuju puncak. Di beberapa tempat harus menaiki batu batu besar yang licin yang disekitarnya adalah jurang. Selain itu terdapat akar yang tertutup lumut, bila menginjak tanah akan terjeblos ke celah-celah akar. Di daerah ini biasanya sering dijumpai hewan monyet dan berbagai jenis burung. Selanjutnya kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 10 menit kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I.

KUTAJAYA / CIMELATI

Jalur Kutajaya atau Cimelati adalah jalur pendakian ke puncak Gunung Salak yang paling pendek dan paling cepat, namun di sepanjang jalur pendaki akan sulit menemukan sumber air, sehingga air bersih harus dipersiapkan sejak dari bawah.

Untuk menuju Kutajaya dari Bogor pendaki naik mobil ke jurusan Sukabumi turun di Cicurug atau Cimelati. Cicurug adalah kota kecamatan yang masuk ke wilayah kabupaten Sukabumi, segala perlengkapan pendakian harus dipersiapkan di sini. Dari pasar Cicurug yang juga merangkap terminal kita dapat mencarter mobil ke Kutajaya atau naik ojeg. Kendaraan umum hanya ada di pagi hari, itupun dalam jumlah sangat terbatas.

Perjalanan dimulai dari desa Kutajaya dengan menyusuri ladang dan kebun pertanian penduduk, karena banyaknya percabangan maka perjalanan sebaiknya dilakukan siang hari, usahakan untuk selalu mengikuti punggung gunung.

Bila agak sulit menemukan jalur bisa mengikuti arah ke air terjun. Terdapat tanda-tanda yang jelas pada setiap pos, namun tanda-tanda penunjuk arah menuju puncak sangat jarang. Disepanjang jalur ini tidak ada tempat yang cukup luas dan datar untuk membuka tenda. Di beberapa pos terdapat tempat yang cukup untuk mendirikan 1-2 buah tenda ukuran kecil. Jalur ini jarang dilewati pendaki sehingga kadangkala tertutup rumput dan dedaunan.

Setelah melintasi ladang pertanian penduduk, pendaki melintasi hutan yang cukup lebat namun tidak terlalu lembab. Selanjutnya akan dijumpai pertigaan dari Kutajaya, air terjun dan menuju puncak. Berjalan menuju ke arah puncak sekitar beberapa ratus meter akan dijumpai Pos 3. Jalur ini terus menanjak melintasi hutan-hutan yang cukup lebat. Saat di Pos 4 kita akan menemukan percabangan lagi. Di sini terdapat pipa saluran air, jangan mengikuti pipa saluran air, baik yang ke atas (kiri) maupun ke bawah (kanan).

Setelah melewati Pos 4 jalur kelihatan cukup jelas dan tidak banyak percabangan lagi. Dengan berjalan menempuh sekitar 1 jam kita akan sampai di Pos 5. Jalur semakin menanjak melintasi hutan lebat dan kadangkala pendaki harus melintasi akar-akar pohon. Sepanjang jalur Kutajaya ini kita akan menjumpai pemandangan monoton hanya berupa hutan-hutan, namun kalau beruntung kita kadangkala akan melihat satwa-satwa seperti aneka jenis burung, juga suara-suara monyet, bahkan seringkali rombongan monyet melintasi jalur ini.

Untuk menuju Pos 6 diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di Pos 6 terdapat tanah datar yang cukup untuk mendirikan 1 buah tenda. Masih diperlukan lagi waktu sekitar 1 jam perjalanan untuk menuju puncak Gunung Salak I.

Penjalanan melewati jalur ini akan sampai tepat di samping makam Mbah Gunung Salak atau puncak Gunung Salak 1 dengan ketinggian 2.211 mdpl.

PASIR REUNGIT

Untuk menuju ke Pasir Reungit dari stasiun Bogor kita bisa naik kendaraaan umum / angkot jurusan Bubulak. Kemudian dari terminal Bebulak disambung dengan angkot jurusan Leuwiliang, turun di simpang Cibatok. Dari Cibatok disambung lagi dengan mobil angkutan pedesaan atau dengan ojek ke Gunung Picung atau Bumi Perkemahan Gunung Bunder yang berakhir di Pasir Reungit.

Untuk menuju puncak gunung Salak I jalur ini merupakan jalur terpanjang karena harus memutar dan melintasi Kawah Ratu.

Jalur pendakian dari Pasir Reungit ini untuk menuju ke Kawah Ratu memiliki medan menanjak (ekstreem) dan berbatu melewati air terjun.

Di rute ini dapat dijumpai dua kawah berukuran kecil, yakni Kawah Monyet dan Kawah Anjing. Pada musim hujan beberapa bagian medannya berubah menjadi daerah aliran air alami.

Di sekitar Desa Pasir Reungit terdapat perkemahan dan tiga mata air yakni, Curug Cigamea Satu, Curug Cigamea Dua, dan Curug Seribu, yang dapat disinggahi sebelum ke Kawah Ratu. Curug Cigamea ini tingginya kurang lebih 50 meter.

Tidak jauh dari kampung Pasir Rengit, terdapat Curug Ngumpet. Tumpahan airnya cukup lebar dengan ketinggian sekitar 20 meter. Sedangkan Curug Seribu memiliki tinggi mencapai 200 meter, dan tumpahan curug cukup besar dan menyatu, sehingga dari jarak jauh sudah terasa percikan airnya yang lumayan dingin.



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636

CEDERA OTOT YANG SERING TERJADI DALAM PENDAKIAN GUNUNG

CEDERA OTOT YANG SERING TERJADI DALAM PENDAKIAN GUNUNG

Ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan sebelum mendaki gunung. Pertama kondisi personel, seberapa berat medan yang dilalui, serta kondisi lingkungan yang meliputi cuaca, rekan sesama pendaki dan juga kelengkapan.

Ada beberapa cedera yang harus kita waspadai pada saat kita sedang melakukan pendakian. Dari beberapa cedera yang dialami seorang pendaki adalah cedera pada otot-otot persendiannya. Dari sekian banyak cedera otot yang dialami pendaki, ada beberapa kecelakaan /cidera otot yang sering dialami pendaki diantaranya adalah :

1. KRAM BETIS

Kram Betis (strained calves) dirasakan seperti terbakar, tidak ada tenaga dan kram pada otot betis. Hal ini diakibatkan saat mendaki tanjakan berbatu yang mengharuskan kita memanjat dengan menaikkan kaki satu2 sehingga beban tertumpu hanya pada betis , bukannya pada otot paha dan bokong. Jika mengalaminya saat mendaki, kita harus istirahat, letakkan kaki yang sakit lebih tinggi dari jantung, dan pijat untuk melemaskannya. Untuk mencegah, sebelum mendaki kita harus melatih otot paha dan otot bokong kita sehingga otot tersebut bisa jadi tumpuan saat menanjak manjat.

2. CEDERA PERGELANGAN KAKI

Cedera pergelangan kaki (Rolled ankle) ini berupa rasa sakit dan bengkak pada pergelangan kaki, meski kita tidak menyadari kalau kita keseleo selama perjalanan. Cedera ini disebabkan jika otot betis ke bawah kurang kuat sehingga tidak memberikan kestabilan pada pergelangan kaki saat berjalan di tempat yang tidak rata seperti berbatu atau tanah bergelombang (seperti jalan di awal pendakian Gunung Papandayan euy). Untuk pencegahannya latih keseimbangan satu kaki dengan membawa beban untuk memperkuat otot kaki bawah kita termasuk pergelangan kaki. Jika bolak balik mengalami cedera, gunakan boot potongan tinggi.

3. LUTUT GEMETAR

Sakit di otot paha dan lutut gemetar ( sore on quads and/or knee). Penyebabnya adalah saat turun dengan bawaan masih berat, posisi kesejajaran antara pinggul, lutut dan pergelangan kaki yang tidak tepat, dan terakhir akibat kaki panjang sebelah ( ane banget). Untuk mecegah, latih otot torso kita yaitu mulai dari bahu sampai pinggul sehingga tubuh kita stabil dalam membawa beban berat saat turun pendakian. Gunakan juga trekking poles kalau turun.


4. SAKIT OTOT PINGGUL

Radang sendi Pinggul (Hip bursitis) dirasakan sakit luar biasa setiap langkah kita akibat kerusakan jaringan lunak di daerah pinggul.Alhasil, cara jalan kita pasti jadi aneh, seperti malas ngangkat paha kita. Ini yang paling sering kita alami sebenarnya bagi yang suka mendadak mendaki di akhir weekend tanpa persiapan olahraga beberapa minggu sebelumnya. Banyak duduk di kantor, langsung mau nanjak aje, otot pinggul kita lah yang jadi sasaran kram dan sakit selama pendakian. Latihan hip abductor sangat membantu menguatkan otot2 pinggul kita.

5. METATARSALGIA

Metatarsalgia (nyeri pada tulang jari tepat sebelum jari2 kaki) dirasakan seperti ada batu tajam di dalam sepatu kita. Hal ini terjadi jika kita menggunakan sepatu yang memiliki ujung sempit atau terlalu lekuk ke atas, selain kebiasaan menapak dengan ujung sepatu terlalu berlebihan saat pendakian. Ubah kebiasaan menapak. Tekanan saat menapak harus didistribusikan sampai ke tumit. Bantalan tambahan pada sole dalam dapat mengurangi tekanan di pangkal jari saat menapak.

6. PLANTAR FASCIITIS

Plantar fasciitis (nyeri pada telapak kaki) dirasakan tidak hanya berupa rasa sakit pada lengkukan telapak kaki tetapi juga pada tumit kita. Fascia plantaris merupakan jaringan ikat yang memghubungkan jari – jari kaki dengan tumit dan menyokong lengkungan telapak kaki. Untuk mengobati, gunakan botol plastik dan pijakkan telapak kaki yang sakit sambil menggulungkan botol plastic tetsebut. Untuk pencegahan latihan berjalan dalam jarak jauh secara bertahap/ step by step.



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636

INDONESIA : NEGERI RING OF FIRE

INDONESIA : NEGERI RING OF FIRE

Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah “ Ring of Fire” baik itu di beberapa stasiun televisi swasta nasional, atau di beberapa mass media (media cetak). Dan di dunia internasional umumnya dan dikalangan para penggiat/penjelajah alam bebas atau di kalangan mountaineer dunia khususnya negeri kita ini digelari sebagai NEGERI RING OF FIRE…Mengapa demikian?

Indonesia merupakan tempat pertemuan 2 rangkaian gunung berapi aktif . Indonesia memiliki banyak sekali gunung berapi aktif yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak gunung berapi( vulkanik ) karena Indonesia terletak di 2 jalur pegunungan dunia yaitu Circum Pasific yaitu dari Pegunungan Andes sampai New Zealand, dan Circum Mediterania dari Pegunungan Atlas sampai Pulau Banda. Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi and 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Sebagian dari gunung berapi terletak di dasar laut dan tidak terlihat dari permukaan laut. Indonesia merupakan tempat pertemuan 2 rangkaian gunung berapi aktif (Ring of Fire). Terdapat puluhan patahan aktif di wilayah Indonesia. Maka dari itulah negeri kita ini digelari sebagai negeri Ring Of Fire. Berikut ini adalah beberapa nama gunung vulkanik yang terdapat di Indonesia.

GUNUNG SIBAYAK

Gunung Sibayak adalah sebuah gunung yang menghadap ke kota Brastagi di Sumatera Utara. Orang Batak Karo menyebut gunung Sibayak dengan sebutuan "gunung Raja". Gunung Sibayak merupakan gunung berapi dan meletus terakhir tahun 1881. Gunung ini berada di sekitar 50 kilometer barat daya Kota Medan.

GUNUNG SINABUNG

Gunung Sinabung adalah sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung bersama Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600.[3] Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 3 derajat 10 menit LU, 98 derajat 23 menit BT.

GUNUNG TALANG

Gunung Talang (nama lainnya Salasi atau Sulasi) merupakan gunung berapi yang terletak terletak di kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.Gunung Talang berlokasi sekitar 9 km dari kota Arosuka ibukota kabupaten Solok, dan sekitar 40 km sebelah timur kota Padang. Gunung ini bertipe stratovolcano dengan ketinggian 2.597 m, merupakan salah satu dari gunung api aktif di Sumatera Barat, dan salah satu kawahnya menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Talang. Gunung Talang sudah pernah meletus sejak tahun 1833 sampai dengan tahun 2007.

Pada 11 April 2005, Gunung Talang kembali meletus. Gempa yang diikuti bunyi gemuruh dan letusan yang mengeluarkan debu vulkanik sudah berlangsung sedikitnya 42 kali. Di Aia Batumbuak, lokasi terdekat dengan sumber letusan, hujan debu mencapai radius 5 km, sedangkan ketebalan debu di jalan mencapai 10 cm. Di sisi selatan Gunung Talang terbentuk kawah baru yang mengeluarkan asap belerang dan hujan berdebu vulkanik. Sebanyak 27.000 penduduk harus dievakuasi dari wilayah itu.

GUNUNG KERINCI

Gunung Kerinci (juga dieja "Kerintji", dan dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra.

Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl, di sini pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat gunung tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh. Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009.

GUNUNG KRAKATAU

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

GUNUNG SALAK

Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Banyak yang mengira nama Gunung Salak berasal dari nama tanaman Salak, akan tetapi sesunguhnya nama gunung ini berasal dari bahasa sansekerta "Salaka" yang berarti perak. Maka Gunung Salak bermakna "Gunung Perak."

GUNUNG GEDE

Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango dan mempunyai ketinggian 2958 meter Dpl, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl, dan berada pada lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Suhu rata-rata di puncak gunung Gede 18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.
GUNUNG TANGKUBAN PERAHU

Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada ma

GUNUNG PAPANDAYAN

Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.

Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya. Topografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang terjal. Menurut kalisifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 º C.

GUNUNG GALUNGGUNG

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 (VEI=4) disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983

GUNUNG MERAPI

Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

GUNUNG MERBABU

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah.
Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.
Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

GUNUNG BROMO

Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

GUNUNG SEMERU

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT. Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

KAWAH IJEN

Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen, Jawa Timur, memiliki tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

GUNUNG AGUNG

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.142 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem - Bali. Gunung Agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar. Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok di sebelah timur, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan, kepulauan Nusa Penida di sebelah selatan beserta pantai-pantainya, termasuk pantai Sanur serta gunung dan danau Batur di sebelah barat laut

GUNUNG TAMBORA

Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.

GUNUNG RINJANI

Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.
Secara administratif gunung ini berada dalam wilayah tiga kabupaten: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat.



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636

PENDAKI DOWN SYNDROM TERMUDA YANG MENCAPAI BASE CAMP NEPAL (MT. EVEREST)

PENDAKI DOWN SYNDROM TERMUDA YANG MENCAPAI BASE CAMP NEPAL ( MT. EVEREST)

Eli Reimer seorang ABG dari wilayah Bend ( Negara bagian Oregon, USA )adalah salah satu pendaki gunung yang pertama - dan mungkin pendaki remaja Amerika pertama yang mengidap Down syndrom yang berhasil mendaki salah satu base camp (Base Camp Selatan di Nepal) di MT. Everest , gunung tertinggi di dunia awal bulan maret 2013 ini. Dia berhasil membuat surprise banyak orang didunia ketika berhasil mendaki hingga ketinggian 17.600 kaki (+/- 5870 Mt dpl) setelah hampir dua minggu melakukan pendakian /pemanjatan atau sekitar 70 Mil (112,6 Km ) berhasil ditempuh Eli. Dengan prestasti yang sangat luar biasa ini Eli Reimer berhasil mencatatkan dirinya atau membuat sejarah tersendiri dalam lintasan historis Himalaya. Seorang remaja Down syndrom pioneer dari Oregon (USA) pertama di dunia yang berhasil mencapai MT. Everest.

Pendakian yang luar biasa dan sangat mengagumkan ini dilakukan Eli bersama team nya yang berjumlah 8 orang termasuk ayah nya sendiri. Dan terus menerus dipantau oleh team medisnya. Menurut ayah Eli sendiri yakni Justin Reimer mengatakan bahwa dokter memberi puteranya acungan jempol karena berhasil lolos tes uji ketahanan. Menaklukkan Everest memang tidak mudah karena sangat membingungkan dengan faktor kesulitan yang sangat tinggi. Selain dipengaruhi oleh ketinggiannnya, cuaca dingin dan potensi longsoran yang mematikan adalah kendala lain yang bisa mengancam.

"Kami memantau darahnya, tingkat kejenuhan oksigen saat kita naik (gunung). Dan dia secara konsisten, secara signifikan, melangkah lebih tinggi daripada orang lain, dia benar-benar memimpin kita di perjalanan. Eli seperti memandu kami," kata Justin Reimer seperti dilansir New York Daily News, Selasa (2/4/2013).

MENDAKI MT. EVEREST UNTUK MENOLONG ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi swasta ( HLN ), Justin Reimer menceritakan bahwa ia bersama dengan anaknya ini melakukan pendakian ke MT. Everest daalam rangka mencari dana amal keluarga buat sebuah yayasan ( THE ELISA FOUNDATION ), yaitu sebuah organisasi non profit yang berupaya menggalang dana dan dukungan bagi orang-orang yang hidup dengan cacat serta menawarkan dukungan profesional dan pendidikan untuk keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Yayasan ini didirikan pada tahun 2005 oleh Reimer dan istrinya, Tamara.

Jadi dengan bermodalkan kepercayaan diri dan tekad untuk membantu sesama penderita down syndrom Eli percaya dan yakin dapat mencapai mount everest, meskipun dengan resiko yang sangat tinggi. Karena semua pendaki gunung dimanpun dia berada sangat mengerti bahwa " Mendaki Gunung Everest tidak mudah “: Selain dari ketinggian diatas 8000 meter Dpl, perjalanan dalam mendaki puncak nya memiliki cuaca dingin yang sangat ekstreem dan potensi longsoran mematikan

"Itu nyata," kata Justin penduduk kota Bend (Oregon) "Untuk berdiri di sana di tempat itu dan melihat senyum di wajah Eli dan rasa prestasi yang dia miliki, dan fakta bahwa kesehatannya lebih baik daripada kami pada saat itu ... itu merendahkan, itu inspirasi, dan saat itu adalah momen yang luar biasa”.

"Setidaknya pernah ada satu orang lain dengan Down Syndrom diketahui telah mencapai base camp Selatan ( Nepal ) “, demikian Justin Reimer mengatakan kepada majalah TIME. Dan ketika ditanyakan kepada Eli apakah itu suatu prestasi yang sulit untuk dicapai dan diselesaikan, ternyata ABG ini dengan sambil tersenyum lebar mengatakan “ Tidak”. Eli mengatakan dengan singkat bahwa mendaki gunung Everest tidaklah sulit baginya.

"Kami memonitor darahnya (saturasi), tingkat kejenuhan oksigen seperti umumnya para pendaki lainnya ," kata Justin Reimer. "Dan pemeriksaan itu dilakukan secara konsisten.. Hasilnya terbukti bahwa Eli secara signifikan dan konsisten ternyata lebih tinggi, lebih bagus daripada anggota teamnya yang lain.

Dari pendakian yang dilakukan Eli ini, Yayasan Elisa berhasil mengumpulkan sumbangan hingga lebih dari US$ 85.000 atau sekitar Rp 827,6 juta. Target yang ingin dicapai dari event ini adalah hingga mencapai US$ 100.000 atau sekitar Rp 973,7 juta.

Eli adalah remaja pertama (pendaki gunung ) dengan down syndrom termuda yang berhasil mencapai base camp Nepal Mount Everest. Sebelumnya sudah pernah ada seorang pria down syndrom berusia 35 tahun asal Inggris yang berhasil mendaki sampai ke base camp ini dan menjadi pria pertama dengan down syndrom yang berhasil mencapai base camp Mount Everest.

"Sebuah pedoman hidup bagi siapa saja yang memiliki anak dengan cacat atau yang memiliki kebutuhan khusus dalam beberapa cara ... " kecacatan bukan keterbatasan, "kata Justin Reimer, menambahkan bahwa kehidupan Eli" dan kehidupan orang-orang penyandang cacat memiliki nilai abadi / kekal. "



Sumber:
www.facebook.com/pages/Estepe/140819622782636